Kapolrestabes Semarang Kombes Abiyoso Seno Aji, Ikon Polisi Inspiratif

Semarang – Inventori.co.id – Tegas menjalankan aturan, Kapolrestabes Semarang ini siap dengan cibiran miring. Ia terus belajar dari kegagalan untuk mengembangan insting. Kiprahnya pun menjadi teladan, ikon polisi inspiratif.

Bahkan, pada akhir Oktober tahun lalu Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah (Jateng) menggelar acara apresiasi. Ada sebelas tokoh asal provinsi itu yang mendapatkan penghargaan sebagai Ikon Inspiratif 2017 atas berbagai perannya bagi masyarakat provinsi ini. Salah satunya diberikan kepada Komisaris Besar (Kombes) Abiyoso Seno Aji sebagai Kapolrestabes Semarang.

Siapakah polisi itu? Kombes Abiyoso sendiri baru setahun menjabat sebagai Kapolrestabes Semarang. Namun, namanya mencuat lantaran lontaran pernyataan tegasnya. Aksinya dalam meredam gerakan radikalisme pun menjadi perbincangan publik.

Abi–begitu dirinya disapa–memang banyak terjun dalam bidang penugasan di pasukan. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1992 ini setelah menamatkan sekolah staf dan pimpinan menjadi Kasat Brimob Polda Sulawesi Tenggara. Kemudian, pada 2010 menjabat Dansat Brimob Polda Riau. Selanjutnya ia berpindah tugas di Sulawesi Tengah pada satuan Sabhara.

Lalu pernah menjabat sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Sabhara Baharkam Polri, urai peraih beberapa tanda jasa satya lencana seperti Dharma Nusa, Dwidya Sistha, Kesetiaan 8 tahun, 16 tahun, dan 24 tahun, BB Nararya, Jana Utama, Ksatria Bahyangkara, Karya Bakti, Bhakti Nusa, dan Kebaktian Sosial.

Salah satu tugas yang menurutnya begitu diingat yakni saat menjadi anggota Brimob di Kelapa Dua, Depok. Tepatnya pada 2011, ia ikut menjalani operasi penumpasan Operasi Papua Merdela bersama 34 personil lainnya. Dalam operasi di Puncak Jaya itu terjadi aksi tembak menembak yang mengakibatkan dua personil Brimob gugur. Baginya, hal ini merupakan pil pahit yang jadi pembelajaran hidup.

Baca Juga :   Mulai Hari Ini Tol Bali Mandara Terapkan Pembayaran Elektronik

“Operasi itu saya merasakan kegagalan. Kami berangkat 35 orang semestinya pulang lengkap. Tapi Tuhan berkata lain. Yang kembali hanya 33 orang. Kalau misalnya meninggal karena sakit mungkin tidak berat. Ini karena terjadi kontak senjata dan diterjang peluru. Itu sebenarnya tidak ingin saya ceritakan, tapi karena Anda menanyakan ya saya ceritakan peristiwa tak terlupakan, kenangnya dengan mimik serius,” ceritanya dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah di Jakarta.

Meski begitu, Abi merasakan kegagalan itu sebagai pembelajaran. Hal ini membuatnya mengembangkan insting serta feeling-nya. Lelaki yang fasih berbahasa Inggris ini menjadikan tantangan sebagai konsekuensi dari tugas.

Kembali kepada tugasnya sebagai Kapolrestabes Semarang. Terdapat berbagai polemik dalam meredam aksi yang dianggap radikalisme. Misalnya kala itu, Jumat 21 Juli, dirinya memberikan peringatan keras kepada kelompok masyarakat yang berniat menggelar demonstrasi menolak Perppu 2/2017 tentang perubahan atas UU No. 17/2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas).

Dengan lantang ia memberi peringatan apabila kelompok penentang Perppu Ormas itu bersikeras melakukan aksi unjuk rasa, meski tanpa izin, maka dirinya menyatakan bakal bertindak sekaligis mengeluarkan pernyataan tegas.

Hal ini mendapat protes dari sejumlah pihak. Namun, Abi–sapaan akrabnya–merasa pernyataan kerasnya merupakan buah dari rentetan terhadap aksi intolerasni yang merebak seantero negeri, termasuk di Kota Semarang. Saya menjabat Kapolrestabes Semarang sejak Oktober yang kondisinya marak intoleransi. Maka saya coba mengamankan untuk memberi perlindungan, ujarnya.

Lelaki kelahiran Surakarta, 25 Oktober, 47 tahun silam ini beberapa kali menertibkan berbagai aksi intoleransi. Belum dua pekan menjabat sebagai Kapolrestabes Semarang, ia langsung berhadapan dengan tugas cukup berat. Tepanya, Rabu 12 Oktober 2016, penganut Syiah dari berbagai kota di Jawa Tengah mengelar peringatan 10 Muharram atau yang biasa disebut Asyuro. Berlangsung di di Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Petek, Semarang, dan sempat diwarnai kericuhan.

Baca Juga :   2 DPO Polisi Diduga Jadi Anggota TNI

Forum Umat Islam (FUI) Jawa Tengah dan Yogyakarta menyatakan penolakan serta mengancam bakal menggagalkan acara. Padahal, kegiatan Asyuro itu sudah mengantongi izin dari Polda Jawa Tengah dan Polresta Semarang. Kala itu, massa syiah dikepung massa FUI. Namun, Abi langsung memberi peringatan kalau ada pemaksaan pembubaran, maka menjadi kegiatan pelanggaran hukum berupa intoleransi. Maka, dirinya sebagai komandan dengan tiga melati di pundak itu, langsung memberikan perintah penindakan. “Saya tidak bela paham Sunni atau Syiah. Saya hanya membela rakyat yang sudah sesuai aturan,” ujarnya.

Kalangan FUI sendiri merasa kegiatan itu melanggar kaidah Islam seperti rangkaian kegiatan menyakiti diri dengan senjata tajam. “Saya bilang ayo kita bareng lihat. Kalau ada yang menyakiti tubuhnya dengan senjata saya sendiri yang akan membubarkan. Ternyata tidak kan. Akhirnya kegiatan itu berjalan tertib dan damai,” tuturnya.

Lalu, ada kegiatan Forum Khilafah Indonesia yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), pada Minggu malam 9 April, di Guntur Hall Hotel Grasia Semarang, yang dibubarkan. Sebab, acara ini tak mengantongi izin. Abi beserta jajarannya juga dibantu ratusan massa dari Banser GP Ansor yang kemudian membubarkan acara itu. “Saya tidak memilih ormasnya, tapi lebih kepada aturan hukum,” sebutnya.

Kalangan HTI pun bilang kalau pihaknya sudah mengeluarkan dana lumayan besar demi acara tersebut. Dengan bersahaja, Abi menjawab siap mengganti dana kerugian pihak panitia. “Saya bilang besok pagi datang ke kantor biar saya ganti semua uangnya. Tapi mereka juga tidak datang,” paparnya.

Baginya, dalam merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara melewati penyaringan ketat oleh sejumlah tokoh nasional, termasuk kalangan ulama.

Sehingga, ideologi itu harus dirawat. Saya yakin para ulama saat itu paham soal khilafah. Tapi beliau-beliau tetap memilih Pancasila sebagai idelologi, pandangan hidup bangsa. “Kenapa harus diubah? Saya juga tidak rela kalau NKRI akan dipecah belah hanya dengan memasukan ideologi-ideologi agama,” ungkapnya. (Ranap/Andrio/Febri/Keadilan).

Baca Juga :   Tiga Politisi Partai Golkar Menolak Calon Tunggal Ketum Munaslub Golkar