Profil Mayjen (Purn) Glenny Kairupan, Tentara Pilot, Intelijen, dan Sahabat Bersahaja

Melewati karir militer dengan gemilang, ia tetap bersuka cita dengan akhir karir sebagai akademisi. Sosoknya nasionalime bersahaja, egaliter, dan penuh pluraliusme. Dikenal sebagai The Smiling Comandan!

Petulangan Glenny Kairupan sudah bermula sejak lahir. Tak lama dilahirkan pada 11 Februari 1949 di Manado, ia harus mengikuti orang tuanya yang hijrah ke Jakarta lantaran mengikuti ayahnya bertugas sebagai salah satu pegawai negeri sipil di Departemen Pekerjaan Umum (PU).

Ketika masih balita, ia lalu mengikuti orang tua asuhnya, yang juga kerabat keluarga di Surabaya. “Saya dua kali diangkat anak berturut-turut. Sampai umur enam tahun baru bergabung dengan orang tua kandung. Pertama diangkat anak lalu ibunya meninggal. Lalu pindah kepada orang tua asuh kedua, tapi ibunya meninggal juga. Akhirnya orang tua saya kepikiran, ini anak tidak boleh bergabung dengan orang lain. Lalu saya kembali bergabung dengan  orang tua kandung,” akunya kepada Inventori.

Lepas umur enam tahun ia tinggal bersama orang tua kandung di Petojo, Jakarta yang bertetangga dengan Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)  yang kelak ikut menggerakkan Glen  tampil menjadi anggota TNI. “Ya, saya masuk gara-gara dia juga, karena tetangga. Rumah saya dekat dengan tempatnya,” tuturnya.

Sejak kecil, Glenn sendiri sudah hobi dalam olahraga bela diri. Saat SMP, ia pernah ikut dalam Jujitsu, kemudian pada bangku kelas tiga ia pindah sebagai anggota karateka FORKI (kini bernama INKAI) hingga akhirnya pada 1992 menjadi Ketua INKAI Jakarta menggantikan Letjen (Purn) Prabowo Subianto.

Glenn yang pada bangku SMP satu angkatan dengan Yusuf AR; mantan Ketua Umum KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda-Pelajar Indonesia) membuatnya pun tergerak menjadi aktivis sejak belia. Selepas lulus SMP, Glen yang sekolah di SMA Negeri 4 Jakarta menjadi Ketua KAPPI pada sekolah tersebut, tepatnya pada 1966 atau masa ormas menghadapi kecemasan lantaran dampak dari pelarangan Partai Komunis dengan organ sayapnya.

Selepas SMA, Glen pun langsung memilih menjadi perwira militer TNI Angkatan Darat (AD) karena kondisi perekonomian tak memungkinkan untuk kuliah. “Orang tua saya memang menampung banyak orang, jadi kebutuhan hidup besar. Ayah saya harus pinjam uang waktu kakak saya mau kuliah di UKI (Universitas Kristen Indonesia) Jakarta. Saya kasihan dan memilih masuk tentara karena tidak mengeluarkan biaya,” aku anak kedua dari tujuh bersaudara; empat lelaki dan tiga perempuan tersebut.

Singkat kata Glen masuk Akademi Militer (Akmil) pada 1970, yang satu angkatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo Subianto, dan Ryamizard Ryacudu. Dalam Akmil, Glen bahkan satu kamar dengan SBY.

Pada 1975, ia lantas mengikuti pendidikan penerbangan di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Banten yang kala itu bernama Lembaga Perhubungan Udara (LPPU) Curug. Sehingga, Glen menjadi pilot dari kalangan AD. Bahkan dirinya mengantongi sertifikat CPL (Commercial Pilot License),PPL (Private Pilot License). ” Saya malah dianggap pilot VIP, karena saya bisa terbang di atas kawat listrik tegangan tinggi yang tidak banyak orang bisa. Orang bilang waktu itu gila,” timpalnya sambil terkekeh.

Tak berlebihan rasanya kalau Glen sebagai salah satu pilot TNI AD terbaik di era 70-80-an. Sebab, kala itu, memang banyak pilot dari belahan dunia seperti Australia, Eropa dan Amerika Serikat yang bisa di kenal dengan “Bush Pilot” sampai terkesima dengan kesaktian pilot Indonesia di Papua, yang juga daerah tugas Glen. Apalagi pesawat Indonesia sudah bukan rahasia, sejak dulu merupakan produk nomor dua dengan sistem navigasi yang kadang kembang-kempis. Kesulitan serta tantang pun harus dilewati pilot seperti melewati crosswind landing dengan badai yang tiba-tiba datang. ” Saya memang dapat rating fixed wing  dan melanjutkan rating helicopter selama 10 tahun di AD dengan menunggani helikopter yang bermarkas di Kemayoran,” imbuhnya.

Baca Juga :   Dansatgas Konga XXXVII-D/Minusca Berikan Pengarahan

Sebagai pilot Glen juga pernah mengikuti berbagai pelatihan internasional sperti bersama divisi ke-25 Infanteri di Hawaii, Amerika Serikat pada 1980. Ia pernah pula ikut penugasan ke Filipina pada 1987.

Bersama SBY Saat didepan Paviliun yg saat ini menjadi perpustakaan
Bersama SBY Saat didepan Paviliun yg saat ini menjadi perpustakaan

Glen pun mengikuti berbagai penugasan pada daerah konflik seperti Timor Timur  (Timtim) akibat tindakan sepihak dari Fretilin yang melakukan proklamasi kemerdekaan 25 November 1975. Padahal, pihak lain menginginkan integrasi yang bergabung dengan Indonesia sehingga melahirkan UU No 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur ke dalam NKRI. “Tahun 1976 saya lalu dikirim ke sana dan juga banyak tugas di daerah konflik seperti Aceh, Kalimantan Barat, dan Papua,” tambahnya.

Pimpinan Korps Taruna AKABRI
Pimpinan Korps Taruna AKABRI

Di Timtim, karirnya melesat hingga menjabat sebagai Wakil Danrem. Ia menjadi orang kedua setelah Kiki Syanakri yang menjadi Danrem Timtim saat berpangkat kolonel pada pasukan infantri. Di Timtim pulalah ia bertemu dengan Maya Rumantir yang menggelar misi perdamaian dengan tajuk ‘Lawatan Obor’. “Kalau tak salah tahun ketemunya tahun 1994 ketika beliau di utus oleh mabes TNI untuk misi perdamaian disana. Saya lihat dia berdoa dari pagi sampai malam. Menariknya saat acara gerak jalan 10 kilometer di Dili itu cuaca gelap dan akan hujan dan akhirnya hujan, namun mukijizatnya di sekitar jalan yang dilalui tidak hujan. Ajaib memang dan Puji Tuhan,” ceritanya.

Kemudian Glen pindah tugas ke Salatiga sebagai Danrem 073 Makutarama. Pada angkatan Akmil lulusan ’73, jabatan danrem ini terbilang cepat. Hanya ada empat orang yang menjadi the rising star. Keempat orang tersebut adalah mantan Presiden SBY sebagai Danrem di Yogyakarta, Syamsul Maarif (mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB) sebagai Danrem di Surabaya, dan almarhum Agus Wirahadikusumah (Pangkostrad era Presiden Gus Dur) yang jadi Danrem di Bali.

Keempat, Glen sendiri. Sebagai Danrem 073 Makutarama di Salatiga ternyata punya catatan sejarah. Jabatan ini pernah diemban mantan presiden Soeharto. Bahkan, pada era Belanda kawasan dikenal angker sehingga dinamakan Werkreis yang pada akhirnya melahirkan aksi Serangan Oemoem 1 Maret. “Sebenarnya saya ditunjuk jadi Danrem di Manado, tapi karena ada konflik UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga, dan dianggap pengalaman mengatasi konflik seperti di TimTim, maka ditugaskan jadi Danrem 073 Makutarama,” jelasnya.

Di Korem 073, Glen pun sempat mendirikan mushala yang ada di dalam kompleks. Juga berhasil meredam konflik di UKSW yang dipelopori Arief Budiman sebagai dosen pasca sarjana yang dipecat tak hormat oleh Dewan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) pada Oktober 1994 lantaran sering mengkritisi kampusnya banyak terlibat dalam proyek pemerintah.

Sosok Glen yang mudah bersosialisasi, masuk dalam lingkungan tokoh masyarakat dan agama hingga aktivis. Bahkan, Glen terbilang sukses memimpin para kodim yang sebenarnya para seniornya. Seperti diakui mantan Kodim Kendal Kolonel Inf. (Purn) Suratno yang merasa kepemimpinannya persuasif, dan tak mentang-mentang berkuasa.

“Pak Glen menghargai orang, pendekatannya bukan pakai kekerasan atau kekuasaan, tapi lebih pada teman atau saudara. Tidak pernah emosi. Setiap persoalan dihadapi dengan bijak sehingga diterima oleh para kodim-kodim yang sebetulnya lebih senior dari pak Glen. Dan, pak Glen terkenal dengan sebutan The Similing Komandan. Karena itu, sewaktu dia pindah, kami merasa kehilangan,” aku lelaki yang kini menjadi pengacara tersebut.

Glen sendiri memang punya jiwa pertemanan dengan berbagai lintas kultur, seperti bersahabat dengan Hariman Siregar yang terkenal garang menentang penguasa Soeharto. Suatu kali, saat SEA GAMES Manila tahun 1991 Bob Hasan (Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kabinet Pembangungan VII era Soeharto) mendapati Glen yang bertemu dengan Hariman. “Ada yang kasih tahu saya sewaktu Pak Bob Hasan main golf dengan Pak Harto. Pak Bob bilang ke Pak Harto ada tentara yang maksudnya saya, itu dekat dengan Hariman. Sempat saya dipanggil oleh para jenderal kenapa bisa berteman dengan aktivis seperti Hariman yang sering menentang pemerintah. Saya hadapi dan tidak ada masalah. Masak berteman harus pilih-pilih?,” serunya.

Baca Juga :   Panglima TNI Berikan Bantuan Kesehatan, Menkes Apresiasi

Setelah jadi danrem, Glen pun mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Tercatat, ia menjadi siswa termuda sekaligus yang pertama dari angkatan Akmil ’73.

Bersama Prabowo Subianto saat latihan bersama di luar negeri
Bersama Prabowo Subianto saat latihan bersama di luar negeri

Pada 1995 saat ada likuidasi organisasi ABRI, Glen pindah ke Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI dan mengikuti Pendidikan Intelejen dan mendapat penugasan sebagai Asisten Atase Pertahanan di Filipina pada saat proses pergantian Presiden Marcos ke Aquino yang dikenal dengan People Power. “Di intijilen, saya pernah jadi Danden Intel Kostrad dan Assintel Divisi 1 Kostrad. Saya bikin intelijen kayak modelnya Benny Moerdani yang low profile, senyap tapi penuh suksesi,” paparnya.

Setelah itu, pada 1997 ia mendapatkan posisi sebagai Staff Teritorial Angkatan Darat berpangkat kolonel. Salah satu tugasnya menjadi konseptor GDN (Gerakan Disiplin Nasional) yang dicanangkan oleh Wiranto saat menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD). “Suatu kebanggan bagi saya sewaktu pemaparan GDN di Bina Graha hanya saya dan KASAD yang masuk memaparkan kepada Presiden Soeharto,” timpalnya.

Tatkala reformasi 1998 bergulir, Glen kembali pada tugas dalam bidang intelijen. Jabatannya sebagai Sebagai Staff Intelejen di Badan Penegakan Keamanan dan Sistem Hukum ( Crisis Center ) Departemen Pertahanan Keamanan yang langsung dibawah Panglima ABRI. Lalu, pada April 1999 Glen yang sudah berpangkat Brigadir Jenderal mendapat tugas sebagai Penasehat Keamanan pada Satgas P3TT (Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur) untuk membantu misi PBB UNAMET (United Nations Mission in East Timor) bagi Timtim.

Selain itu, tugas Glen juga banyak dalam bidang pelatihan, dari mulai pasukan Infanteri hingga Lemhanas. Ia memberikan ekstra pengetahuan belajar bahasa asing  “Bayangin tahun 91, saya suruh anak buah belajar bahasa Cina. Saya bilang nanti Cina akan jadi negara besar, dan itu terbukti kan,” ungkapnya yang mengakhiri tugas di Lemhanas sebagai dosen dan bisa meraih bintang dua sebelum pensiun.

Glen bersama keluarga saat wisuda anak semata wayangnya
Glen bersama keluarga saat wisuda anak semata wayangnya

Glen sendiri mempersunting seorang perempuan berdarah bangsawan keraton Surakarta bernama Sri Ekasari Rachmadiarti. Menariknya sang istri tetap berpegang teguh kepada keyakinan yang memeluk agama Islam. “Saya menikah tahun 1980. Prabowo itu menikah tahun 1983. Meski saya dan istri beda keyakinan, tapi tetap harmonis dan akur. Itulah indahnya keberagaman,” ungkap ayah dari seorang puteri bernama Juwita Debby Kairupan yang kini berprofesi sebagai seorang dokter tersebut.

Bukti menjaga pluralisme ini pun dilakukan oleh pasangan Maya Rumantir – Glenny Kairupan dilakukan pada banyak hal. Sehingga, banyak dukungan dari lintas agama pada pasangan ini. Misalnya pada perayaaan Idul Adha 1436 hijriah keduanya membagikan daging kurban sapi kepada ratusan jemaah yang memadati masjid Nurul Huda Kampung Ketang Ternate Baru Kecamatan Singkil, Manado Utara.

“Inti dari berkurban selain sebagai bentuk ketaatan pada Allah Maha Kuasa merupakan pula bentuk solidaritas, manusia itu bukan hanya hidup bagi dirinya sendiri saja,” kata Maya. “Itulah indahnya Sulut. Kerukunan ini harus di pelihara dan dilestarikan. Nilai-nilai kasih, harus terus ditularkan dan kerukunan terus terjaga,” tambah Glen.

Memang Glen sosok militer intelektual, namun pribadinya hangat tetap mendekatkan kepada Sang Khalik saat menjalankan berbagai tugas. Sebagai lelaki berdarah Minahasa, Glen lebih suka disebut Putera Remboken lantaran orang tuanya berasal dari daerah tersebut.

Di luar karir militer, Glen yang menjadi anggota Ikatan Alumni Satya Wacana dan Ketua Penerbang Alumni Curug 23 juga ikut dalam berbagai aktifitas lainnya. Glen bahkan menjadi Ketua Alumni SMAN 4 Jakarta, yang menurutnya selalu disokong oleh rekan-rekannya. “Saya mau mundur jadi ketua dibilang tidak boleh. Akhirnya ya saya lama jadi ketua almuni SMA,” sahutnya seraya tersenyum.

Selain itu, Glen sebagai Ketua Presidium Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK). Dan, menjadi salah satupemimpin Narwastu Ministry. Glen yang hobi bernyanyi turut aktif memperkenalkan paduan suara Gema Sangkakala yang mendapatkan juara lomba Olimpiade Choir di Jerman, atau juara paduan suara junior di Bandung yang juga berkat pelatihan Wenny Pantouw. Padua suara Gema Sangkakala bersiap bertanding di Tingkat dunia di Italia. “Prestasi ini bisa membuat nama harum Indonesia dan Sulut dalam bidang pelayanan Kristen,” timpalnya.

Baca Juga :   HARI KEMERDEKAAN RI KE 78, POLRES LAMPUNG UTARA UNGKAP 9 KASUS MENONJOL DENGAN MENGAMANKAN 12 PELAKU

Bisa dibilang Glen lebih suka pada bidang seni dan sosial. Hal ini menurutnya sebagai bagian dari pengembangan pribadi orang Sulut yang penuh kreasi, tanpa meninggalkan sifat religiusnya. Jiwanya yang low profile, sayang keluarga terutama terhadap orang tua dan sangat penolong terhadap orang yang membutuhkan tanpa melihat agama atau suku, membuat Glen layak memimpin Sulut dalam lima tahun mendatang.

Gambaran Dari Kesaksian   

Tak banyak yang bisa dihadirkan saat Mayjen (Purn) Glenny Kairupan diminta menceritakan perjalanan hidupnya. Mungkin lantaran besar dalam lingkup militer pada bidang intelijen dan akademisi, maka terkesan tertutupdan rendah hati.

Namun ketokohannya bisa terlihat dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Misalnya dalam buku “Timor Timur Satu Menit Terakhir: Catatan Seorang Wartawan” yang ditulis langsung wartawati harian KOMPAS, Cordula Maria Rien Kuntari mengisahkan pengalaman selama meliput konflik Timtim.

Rien, sapaan akrab sang penulis dalam buku menceritakan mendapat ancaman pembunuhan militer dari Jakarta dan juga dari pro kemerdekaan Timtim. Namun, Glen langsung mendatangi Rien dan memberi pengertian kalau militer Indonesia tak ada niatan menghabisi wartawan yang notabene warga negara Indonesia. Glen bersusah payah meyakinkan kalau niatannya untuk membantu memisahkan dari pasukan Aitarak. Sehingga tak berpapasan dengan Aitarak yang kala itu memang haus darah bagi penentangnya.

Cerita tentang Glen juga diutarakan Andy, mantan wartawan majalah TEMPO yang kini menjadi wartawan kantor berita Antara dan di Ombudsman. “Saya kenal dulu waktu masih jadi wartawan TEMPO  pas meliput Timtim, dan dia jadi Wadanrem. Jadi kami banyak berinteraksi,” katanya kepada Inventori.

Ia pun mengamati kiprah Glen yang sebanrnya tokoh perwira yang berprestasi. Baginya, Glen sebenarnya bisa mengukir karir bergengsi setidaknya sebagai Kepala Staf Kodam IV (Kasdam) Diponegoro. “Tapi ya beliau jadi korban politik. Waktu itu memang ada pertarungan TNI Merah Putih dan kubu hijau. Jadi dari analisa saya dia jadi korban pertarungan para elite. Hebatnya dia happy saja di Lemhanas. Tidak dendam,” ungkapnya.

“Kiprah suksesnya ya bisa meredakan kemelut UKSW bahkan bisa bergaul, berteman dengan aktivis dan pihak kampus. Bahkan di Danrem Salatiga dia bisa diterima oleh para ulama seperti kyai-kyai atau santri-santri. Ini tidak mudah di era perpolitikan saat itu, apalagi Pak Glen bergama Kristen,” tambah lelaki yang lulus dari SMA1 Dili dan Universitas Airlangga Surabaya ini.

Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) dan Ketua Satgas Panitia Penentuan Pendapat Timor Timur (P3TT) Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim pun mengisahkan perkenalannya dengan Glen. Ia sedianya senior Glen. “Saya kenal waktu tahun 1970, saya tingkat tiga di taruna Akmil, dan pak Glen masih di tingkat satu. Sifatnya mudah mencair, friendly membuat dia banyak dikenal oleh para seniornya. Dia juga dikenal sangat helpfull atau ringan tangan untuk menolong atau kerja sama. Mungkin ini pengaruh kultur anak Manado yang besar di Jakarta,” urainya.

Glen di tengah bersama tentara luar negeri saat latihan bersama
Glen di tengah bersama tentara luar negeri saat latihan bersama

Zacky pun memandang Glen sebagai pilot helikopter hebat pada penugasan berbagai daerah operasi militer. “Dia terkenal, karena keberaniannya sebagai pilot di daerah konflik. Saya masih ingat di Timtim tahun 1978 Glen dengan helikopternya berhasil menerobos daerah pertempuran yang saat itu masih sangat rawan untuk mengambil korban- korban di pihak TNI. Dan juga mungkin satu-satunya eks pilot yang jadi Danrem,” pungkasnya. (Majalah Inventori Edisi Keempat)